History

Suatu siang di bulan Juni 1989, lima orang duduk berdesakan di ruang kerja penulis LBI, Jl. Kramat Raya 134 Jakarta. Mereka adalah: P. Martin Harun, OFM (LBI); P. H. Sugiri, SJ (Karismatik), Anton Naben (Paguyuban Dosen Kateketik Unika Atmajaya), Ir. Widodo (peminat Kitab Suci), dan A.S. Hadiwiyata (LBI).Dengan serius mereka berlima mempertimbangkan tantangan dari Mgr. Leo Soekoto, SJ (Uskup Keuskupan Agung Jakarta waktu itu) yang mempertanyakan mengapa di KAJ tidak diselenggarakan sebuah kursus yang membina para calon pendamping kegiatan umat dalam bidang Kitab Suci? Bukankah kebutuhan itu sudah sangat mendesak, sementara tenaga pengajar bila mau bekerja sama cukup tersedia? Daripada para aktivis menimba ilmu di GerejaGereja lain, akan lebih baik jika kita mengadakannya sendiri.

(video by David Yuwono, 2010)

Pro dan kontra pendirian sebuah kursus dengan jadwal yang ketat, dan dalam jangka waktu yang cukup lama segera digulirkan. Mereka sependapat untuk menjawab tantangan itu secara positif. Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan, akhirnya terbentuklah suatu yayasan baru dengan nama Santo Hieronimus. Yayasan inilah yang mengelola kursus yang memiliki jajaran staf pengajar dari Kursus Pendalaman Iman (KPI) Santo Paulus, Kateketik Atma Jaya, Karismatik KAJ, Kerasulan Kitab Suci KAJ, dan Lembaga Biblika Indonesia.


Pertengahan Agustus 1989 dimulailah Kursus Pendidikan Santo Paulus (KPKS) Santo Paulus dengan tujuan khusus memberi bekal kepada para calon pendamping pertemuanpertemuan Kitab Suci di lingkungan-lingkungan. KPKS ingin meniru dan meneladan semangat Santo Paulus, pelindungnya. Maka dari itu dipilihlah moto: “Jikalau aku harus bermegah maka aku akan bermegah atas kelemahanku” (2Kor. 11:30).
Pada awalawal kursus terlihat bagaimana perjuangan pengajar dan staf pengurus dalam mencari bentuk yang pas, sambil mengadakan perubahan dan penyesuaian di sana-sini, terutama yang menyangkut kurikulum.


Angkatan pertama banyak diwarnai dinamika: ada ketegangan, pencarian, kebersamaan, tapi tentu ada juga sikap saling mengerti. Maklumlah, para peserta juga berasal dari bermacammacarn latar belakang dan pendidikan. Dari 68 peserta awal, hanya 38 peserta yang menyelesaikan program kursus (tahun 1992) yang terdiri atas 6 (enam) semester ini.
Tahun demi tahun KPKS telah berkembang dengan sangat baik. P. Martin Harun, OFM bersama Stefan Leks dan A.S. Hadiwiyata yang merupakan pionir KPKS terbantu dengan bergabungnya para ahli Kitab Suci seperti P. C. Groenen, OFM; P. Tom Jacob, SJ; P. Wim van Der Weiden. MSF; Mgr. I Suharyo, Pr; dan Rm. St. Darmawijaya, Pr. Kursus ini juga telah menampung begitu banyak peserta dari banyak kalangan seperti Persekutuan Doa, aktivis paroki, dan juga perorangan. Tahun 1995 Mgr. Leo Soekoto, SJ memanggil Rm. Yohanes Subagyo Pr dan P. Robert Wowor, OFM yang saat itu baru kembali dari studi Kitab Suci di Roma untuk turut terlibat di KPKS Santo Paulus.

No comments:

Post a Comment